SAHABATKALTIM, BALIKPAPAN : Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan menargetkan sekolah terpadu yang dibangun di kawasan Perumahan Grand City dapat dimanfaatkan untuk penerimaan peserta didik baru (PPDB) 2027.
Sekolah yang diperuntukkan bagi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan SMP Negeri 29 tersebut saat ini terus dikebut pembangunannya. Progres pembangunan telah mencapai sekitar 70 persen hingga pertengahan September 2026.
Wali Kota Balikpapan, Rahmad Mas’ud mengatakan, capaian tersebut lebih cepat dibandingkan perencanaan awal. Berdasarkan jadwal pembangunan, progres pada tahap ini seharusnya baru mencapai sekitar 40 persen.
“Alhamdulillah, sesuai dengan progres tadi, kalau dilihat dari waktunya harusnya baru 40 persen. Tetapi di pertengahan September ini sudah mencapai 70 persen,” kata Rahmad usai meninjau langsung lokasi pembangunan, Kamis (10/9/2026).
Dengan perkembangan tersebut, Pemkot Balikpapan menargetkan pembangunan sekolah dapat rampung pada November 2026. Setelah selesai, fasilitas pendidikan itu diharapkan segera dapat digunakan masyarakat di kawasan Grand City.
Rahmad menilai keberadaan sekolah tersebut penting karena lokasinya berada di tengah kawasan permukiman. Dengan demikian, masyarakat Grand City akan memiliki akses yang lebih dekat terhadap fasilitas pendidikan.
“Saya berharap segera mungkin sekolah ini dapat dimanfaatkan. Apalagi sekolah ini berada di tengah-tengah perumahan Grand City,” ujarnya.
Sekolah terpadu itu nantinya menyediakan 12 ruang kelas untuk jenjang SMP. Sementara fasilitas PAUD akan dilengkapi sekitar enam ruang. Kapasitas tersebut masih memungkinkan untuk dikembangkan sesuai pertumbuhan jumlah peserta didik dan kebutuhan pendidikan di kawasan tersebut.
Pemkot Balikpapan juga membuka peluang agar kawasan pendidikan di Grand City dapat dikembangkan hingga jenjang SMA.
“Untuk merealisasikan rencana itu,kami akan berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Kaltim,” imbuhnya.
Rahmad menyebut, pihaknya juga akan membahas kemungkinan penambahan lahan sekitar satu hektare dengan pengembang Grand City. Apabila lahan tersebut dapat disediakan dan ditetapkan sebagai fasilitas umum, pembangunan SMA dapat dipertimbangkan.
“Nanti kami akan berkoordinasi dengan Gubernur Kaltim untuk membangun SMA,” paparnya.
Selain sarana pendidikan, kawasan tersebut juga direncanakan memiliki rumah ibadah sebagai fasilitas pendukung. Rahmad menambahkan, pembangunan fasilitas pendidikan dan rumah ibadah diharapkan dapat berjalan beriringan untuk mendukung perkembangan anak, baik dari sisi intelektual maupun spiritual.
“Anak-anak kami bukan hanya pintar secara intelek, tetapi juga harus cerdas dengan nilai-nilai spiritual,” sebutnya.
Di sisi lain, wali kota menegaskan pembangunan sekolah negeri tidak ditujukan untuk mengurangi keberadaan sekolah swasta. Menurutnya, pemerintah justru mendorong kolaborasi agar masyarakat memiliki lebih banyak pilihan dalam memperoleh layanan pendidikan.
Saat ini, sekitar 15 sekolah swasta telah bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kota Balikpapan. Melalui kerja sama tersebut, sejumlah kebutuhan pendidikan seperti uang pangkal, SPP hingga seragam dapat diberikan secara gratis.
“Tidak ada perbedaan, yang beda cuma swasta dan negeri. Mutunya harus sama semua,” tegasnya.
Lanjutnya, pembangunan sarana pendidikan akan terus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Selama masa kepemimpinannya, sekitar tujuh sekolah telah dibangun.
Sementara untuk pembangunan sekolah pada 2027, Pemkot Balikpapan akan melihat perkembangan jumlah peserta didik dan kebutuhan di masing-masing wilayah sebelum menentukan lokasi maupun prioritas pembangunan. (Din/Adv Diskominfo Balikpapan)


















