SAHABATKALTIM, BALIKPAPAN : Antusiasme masyarakat terhadap Job Fair 2026 di Kota Balikpapan terbilang tinggi. Sebanyak 3.900 pencari kerja memadati bursa kerja yang menghadirkan 86 perusahaan dengan total 2.087 lowongan.
Namun, tingginya jumlah pelamar belum menjamin seluruh lowongan akan terisi karena proses seleksi masih berlangsung dan tingkat penyerapan tenaga kerja masih menjadi tantangan.
Kepala Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Balikpapan, Adamin Siregar mengatakan, hingga saat ini seluruh proses rekrutmen masih berada di tangan masing-masing perusahaan. Berkas lamaran yang masuk masih melalui tahapan seleksi administrasi, verifikasi dokumen, hingga wawancara sebelum perusahaan menentukan kandidat yang diterima.
“Belum bisa kami sampaikan siapa saja yang diterima, karena masih menunggu hasil dari masing-masing perusahaan. Prosesnya diperkirakan memerlukan waktu sekitar satu bulan sejak pelaksanaan Job Fair,” ucap Adamin saat ditemui awak media, Rabu (22/7/2026).
Menurutnya, Disnaker masih melakukan rekapitulasi jumlah pelamar yang resmi mengajukan lamaran kepada perusahaan peserta. Karena itu, data penerimaan tenaga kerja juga belum dapat dipublikasikan.
Meski demikian, Disnaker menargetkan tingkat penyerapan tenaga kerja pada Job Fair tahun ini dapat melampaui capaian tahun sebelumnya. Pada pelaksanaan Job Fair 2025, hanya sekitar 48 persen pelamar yang berhasil memperoleh pekerjaan.
“Tahun ini kami berharap tingkat penyerapan bisa di atas 50 persen. Kalau dari sekitar 2.000 lowongan yang tersedia bisa terisi sekitar 1.000 orang, itu sudah menjadi capaian yang baik,” harapnya.
Dia menerangkan, masih rendahnya tingkat penyerapan tenaga kerja bukan disebabkan minimnya lowongan, melainkan adanya kesenjangan antara kebutuhan perusahaan dan kompetensi pencari kerja.
Ia menyebut terdapat tiga faktor utama yang sering menghambat proses rekrutmen. Pertama, kualifikasi pendidikan pelamar belum sesuai dengan persyaratan perusahaan. Kedua, banyak pelamar belum memiliki pengalaman kerja yang dibutuhkan. Ketiga, sejumlah posisi yang tersedia justru kurang diminati pencari kerja.
“Kami masih menemukan ketidaksesuaian antara kebutuhan perusahaan dengan kualifikasi pelamar. Ada juga posisi yang sebenarnya tersedia, tetapi peminatnya sangat sedikit,” terangnya .
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Disnaker terus mendorong peningkatan kompetensi tenaga kerja melalui berbagai program pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan dunia industri.
“Langkah ini diharapkan dapat memperkecil kesenjangan antara kemampuan pencari kerja dan kebutuhan perusahaan,” paparnya.
Selain menunggu hasil seleksi Job Fair yang masih berjalan, Disnaker juga berencana kembali menggelar bursa kerja pada akhir tahun 2026. Kegiatan tersebut diharapkan dapat membuka lebih banyak peluang kerja, sekaligus mempertemukan perusahaan dengan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan.
Menurutnya, Job Fair tidak hanya menjadi ajang mempertemukan pencari kerja dan perusahaan, tetapi juga menjadi indikator kondisi pasar tenaga kerja di Balikpapan.
“Tingginya jumlah pelamar menunjukkan kebutuhan masyarakat terhadap lapangan pekerjaan masih besar, sementara peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi kunci agar peluang kerja yang tersedia dapat terserap secara optimal,” pungkasnya. (Din/Adv Diskominfo Balikpapan)


















