Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
AdvertorialDiskominfo Balikpapan

Kasus Kekerasan Anak di Balikpapan Meningkat 10 Persen, DP3AKB Ajak Masyarakat Berani Melapor

319
×

Kasus Kekerasan Anak di Balikpapan Meningkat 10 Persen, DP3AKB Ajak Masyarakat Berani Melapor

Share this article
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kota Balikpapan, Nursyamsiarni D. Larose.
Example 468x60

 

SAHABATKALTIM, BALIKPAPAN : Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan mengajak seluruh masyarakat untuk lebih peduli terhadap perlindungan anak ,dengan berani melaporkan setiap dugaan kekerasan yang terjadi di lingkungan sekitar.

Example 300x600

Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah semakin banyak anak menjadi korban, sekaligus memastikan setiap kasus dapat segera ditangani.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kota Balikpapan, Nursyamsiarni D. Larose mengatakan, perlindungan anak harus dimulai dari lingkungan keluarga melalui pola pengasuhan yang baik.

Namun, peran masyarakat juga tidak kalah penting sebagai pihak yang dapat mendeteksi dan melaporkan berbagai persoalan yang dialami anak.

“Kami berharap masyarakat bisa menjadi whistleblower apabila terjadi permasalahan di lingkungan sekitar. Jangan ragu melaporkan kepada pihak yang berwenang atau pihak terdekat. Jangan takut terhadap intimidasi, karena yang paling dirugikan jika kasus tidak dilaporkan adalah anak itu sendiri,” ucap Nursyamsiarni kepada media, Jumat (24/7/2026).

Dikatakan, hingga Juli 2026 DP3AKB Balikpapan mencatat sebanyak 132 kasus yang melibatkan anak. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 122 kasus, atau naik sekitar 10 persen.

Meski demikian, ia menilai kenaikan jumlah kasus tidak sepenuhnya menunjukkan meningkatnya tindak kekerasan terhadap anak.

“Peningkatan tersebut juga dipengaruhi oleh semakin tingginya kesadaran masyarakat untuk melaporkan dugaan kekerasan,” jelasnya.

Ia mencontohkan, beberapa hari lalu pihaknya menerima laporan dugaan pelecehan terhadap seorang anak. Laporan tersebut langsung diteruskan ke hotline Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) untuk dilakukan pendampingan dan asesmen.

“Yang melapor bahkan bukan orang tua korban, tetapi orang tua dari teman anak tersebut. Ini menunjukkan kepedulian masyarakat semakin baik sehingga kasus dapat ditangani lebih cepat,” katanya.

Karena itu, DP3AKB mengimbau masyarakat agar tidak memberikan stigma atau menghakimi korban maupun pelapor. Menurutnya, dukungan terhadap pelapor sangat penting agar semakin banyak masyarakat berani menyampaikan informasi ketika menemukan dugaan kekerasan terhadap anak.

Selain persoalan kekerasan, DP3AKB juga menyoroti berbagai tantangan lain yang dihadapi anak dan remaja, seperti tingginya paparan media sosial, penyimpangan perilaku seksual, hingga konten ekstremisme di internet.

Nursyamsiarni mengungkapkan bahwa pihaknya menemukan adanya anak-anak yang terpapar HIV akibat perilaku seksual berisiko.

“Kondisi tersebut menjadi perhatian karena tidak hanya berkaitan dengan persoalan sosial, tetapi juga berdampak pada kesehatan masyarakat,” terangnya.

Di sisi lain, penggunaan gawai dan media sosial yang berlebihan juga dinilai berpotensi menimbulkan berbagai risiko apabila tidak disertai pengawasan orang tua.

“Anak-anak jangan sampai merasa sendiri atau kehilangan perhatian dari keluarga. Ketika terlalu banyak menghabiskan waktu di media sosial tanpa pendampingan, mereka bisa terpapar berbagai konten negatif,” ujarnya.

Ia menjelaskan, ancaman yang muncul saat ini tidak hanya berupa perundungan atau kekerasan di dunia maya, tetapi juga penyebaran paham ekstremisme melalui internet.

Sebutnya, beberapa kasus menunjukkan paparan radikalisme tidak lagi selalu berasal dari doktrin keagamaan, melainkan dari konten digital yang beredar di internet. Bahkan, anak dapat mempelajari cara merakit bahan peledak hanya melalui informasi yang diperoleh secara daring.

“Paparan ekstremisme dan terorisme melalui internet juga harus menjadi perhatian bersama. Karena sekarang bukan hanya soal doktrin agama, tetapi juga pengaruh konten digital yang mudah diakses anak-anak,” paparnya.

Untuk memperkuat perlindungan anak, Pemkot Balikpapan terus meningkatkan layanan pendampingan psikologis. Saat ini tenaga psikolog telah disiapkan melalui Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) maupun UPTD PPA, dan pemerintah berkomitmen menambah tenaga pendamping meski menghadapi keterbatasan anggaran.

“Ini menunjukkan komitmen Pemkot Balikpapan dalam mendukung terwujudnya Balikpapan sebagai Kota Layak Anak (KLA),” tuturnya.

Sementara itu, dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional, berbagai kegiatan tematik digelar di Balikpapan. Tidak hanya dilaksanakan oleh DP3AKB, namun juga melibatkan sekolah-sekolah dan berbagai perangkat daerah sebagai bagian dari upaya meningkatkan kepedulian terhadap pemenuhan hak dan perlindungan anak. (Adv Diskominfo Balikpapan)

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *